Selasa, 05 Agustus 2014

ayat pengendalian diri dan persaudaraan


KONTROL DIRI, PRASANGKA BAIK DAN PERSAUDARAAN


Surat Al Anfaal : 72


 Artinya :
72. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertoIongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itu satu sama lain lindung-melindungi[624]. dan (terhadap) orang-orang yang beriman, tetapi belum berhijrah, Maka tidak ada kewajiban sedikitpun atasmu melindungi mereka, sebelum mereka berhijrah. (akan tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, Maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada Perjanjian antara kamu dengan mereka. dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan.

[624] Yang dimaksud lindung melindungi Ialah: di antara muhajirin dan anshar terjalin persaudaraan yang Amat teguh, untuk membentuk masyarakat yang baik. demikian keteguhan dan keakraban persaudaraan mereka itu, sehingga pada pemulaan Islam mereka waris-mewarisi seakan-akan mereka bersaudara kandung.



Surat Al Hujuraat : 10

 
10. Sesungguhnya orang-orang beriman itu  bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.


Surat Al Hujuraat : 12
12. Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.


motivasi pengendalian diri


Inilah Pentingnya Sebuah Pengendalian Diri
Timotius Adi Tan dalam bukunya Secangkir Sup Bagi Jiwa Anda Seri 2, Mengatakan bahwa kita kelihatan tolol dengan terus menerus berusaha untuk menaklukkan dunia . Sebaliknya, kita akan terlihat lebih bijaksana apabila kita mampu meningkatkan kemampuan pengendalian diri atau penguasaan diri. Betuk tidak?
Kita Ambil contoh nih, Anda tahu dengan Jenghis Khan? Ya, tentu Anda sudah tidak asing dengan sang panglima besar Mongolia pada jaman perang dahulu kala yang tersohor karena kemampuan perangnya.

Bayangkan, seorang panglima perang yang mampu mengalahkan ribuan musuh dan menjadi sangat terkenal, namun pada kenyataannya ia dikalahkan oleh musuh terbesar yang tidak terlihat kasat mata yaitu dirinya sendiri.
Ya…Sang panglima ini harus dikalahkan oleh dirinya sendiri karena telah membunuh sang rajawali setianya hanya karena sang rajawali menyambar pundi air minum secara tiba-tiba saat sang panglima sedang ingin minum dari air sungai yang diambil menggunakan pundi air minum tersebut. Karena hal ini dilakukan berulangkali oleh sang rajawali, akhirnya sang panglima pun tidak mampu mengendalikan kemarahannya lalu dibunuhnya sang rajawali setianya itu dengan sebilah pedang. Matilah sang rajawali itu dihadapannya.
Namun apa yang terjadi kemudian? Sesaat setelah membunuh sang rajawalinya, sang panglima pun berjalan menyusuri sungai hingga akhirnya sampai di mata air sungai tersebut. Betapa terkejutnya saat ingin mengambil air minum di mata air tersebut ternyata ada bangkai manusia yang telah membusuk. Akhirnya dia menjadi sadar bahwa rajawalinya tadi berusaha memberitahukan bahwa air sungai yang akan diminumnya telah tercemar oleh bangkai manusia.
Pengendalian diri atau Penguasaan diri ( Self Regulation ) merupakan satu aspek penting dalam kecerdasan emosi ( Emotional Quotient ). Aspek ini penting sekali dalam kehidupan manusia sebab musuh terbesar manusia bukan berada di luar dirinya, namun justru berada di dalam dirinya sendiri. Dengan demikian, kemana pun seseorang pergi, maka orang tersebut selalu diikuti oleh “Musuh” nya.
Sekalipun terkadang banyak orang berdalih bahwa lingkungannyalah yang membuat tidak bisa berkembang atau lingkungannya pula yang membuat dia stress, namun jika dicermati lebih lanjut, kemungkinan besar aspek penguasaan diri inilah yang belum berkembang secara optimal. Itulah sebabnya, Jack Paar pernah bertutur bijak tentang dirinya sendiri, “Kalau menoleh ke belakang, kehidupan saya rupanya seperti jalan panjang penuh rintangan, dengan diri saya sebagai rintangan utamanya”.
Pengendalian diri atau penguasaan diri merupakan aspek yang perlu dilatih sejak dini. Tidak ada aspek kemampuan untuk menguasai diri yang turun dari langit, melainkan diperoleh dari proses yang panjang dalam pengalaman hidup selama berhubungan dengan orang-orang sekitar. Bahkan dalam sebuah kata bijak tertulis, “Siapa yang menguasai diri ibarat mengalahkan sebuah kota”. Diri yang kita bawa-bawa sekarang ini dapat menguasai kita atau kita yang menguasainya, dapat menjadi sahabat atau malah menjadi lawan. Tergantung pilihan kita menjalani hidup ini.

Sumber :  http://handokotantra.com/inilah-pentingnya-sebuah-pengendalian-diri.htmlhttp://handokotantra.com/inilah-pentingnya-sebuah-pengendalian-diri.html

Senin, 04 Agustus 2014

cerita kontrol diri

Pada suatu hari Khalid bin al-Walid, Bilal bin Rabah, Abu Dzarr al-Ghifari, dan Abdurrahman bin 'Auf  berdiskusi mengenai strategi perang.

Diskusi yang tidak dihadiri Nabi Muhammad SAW ini meruncing, karena masing-masing tidak dapat mengendalikan diri, saling emosi dan ngotot mempertahankan pendapatnya. Usulan Abu Dzarr dinilai salah oleh Bilal.

Abu Dzarr tidak terima dan menyatakan: "Hai Negro, engkau telah berani menyalahkan pendapatku!". Bilal pun marah dan bersumpah akan mengadukan penghinaan Abu Dzarr itu kepada Nabi SAW.
   
Bilal kemudian meninggalkan tempat menuju rumah Nabi SAW. “Wahai Rasulullah, aku baru saja menerima perlakuan diskrimitif dari Abu Dzarr. Aku dibilang negro,” tutur Bilal kepada Nabi SAW. Seketika wajah Nabi SAW tampak memerah mendengar pengaduan itu.

Berita pengaduan ini pun akhirnya sampai kepada Abu Dzarr, sehingga ia bergegas menemui Nabi SAW di masjid Nabawi. "Wahai Abu Dzarr, engkau telah melakukan diskriminasi dengan menghina ibunya (Bilal). Sungguh dalam dirimu masih tertanam sifat jahiliyah," kata Nabi kepadanya.
    
Mendengar nasehat Nabi SAW tersebut Abu Dzarr menangis, dan memohon kepada Nabi SAW agar memintakan ampun kepada Allah SWT. Ia menyesali tindakan diskriminatifnya. Ia berjanji di hadapan Nabi SAW untuk tidak mengulanginya, dan segera  memohon maaf kepada Bilal.
   
Setelah itu, Abu Dzarr keluar dari masjid menemui Bilal sambil merangkak menempelkan pipinya di tanah. "Wahai Bilal, aku tidak akan mengangkat pipiku sebelum aku mencium kakimu. Engkau sungguh mulia, akulah orang yang terhina," seru Abu Dzarr sambil sesunggukan.
    
Melihat sikap penyesalan Abu Dzarr, Bilal pun menitikkan air mata, lalu mengulurkan tangannya kepada tangan Abu Dzarr agar berdiri. Keduanya kemudian berpelukan dan saling menangis: menyesali apa yang telah terjadi.
   
Kisah tersebut sarat dengan pesan moral mengenai pentingnya manajemen pengendalian diri, terutama berinteraksi dengan sesama dan dalam situasi penuh perbedaan pendapat.

Sebab, jika tidak dikelola dan dikendalikan dengan baik, seseorang akan mudah marah. Marah yang berlebihan dapat menyebabkan kehilangan akal sehat dan cenderung bertindak bodoh: menghina, diskriminasi, caci maki, anarki, dan sebagainya.
    
Karena itu, ketika ada seseorang menemui dan meminta wasiatnya, Nabi SAW menyatakan: "Janganlah engkau marah". Orang itu mengulangi lagi permintaannya sampai beberapa kali, Nabi SAW tetap menjawab sama: "Jangan marah!" (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Ketidakmampuan mengendalikan diri berupa kemarahan itu ibarat bara api yang menyala dalam hati. Jika tidak dipadamkan, maka bara itu akan membakar dan menjerumuskan orang yang marah itu dalam kenistaan dan kehinaan.
     
Manajemen pengendalian diri dapat diaktualisasikan dengan beberapa tuntutan Nabi SAW berikut. Pertama, ketika mulai emosi dalam menghadapi suatu masalah atau kondisi, ucapkanlah a'udzu billahi minasy syaithanir rajim (Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk).

Kedua, sabda Nabi SAW: "Apabila salah seorang di antara kamu marah, segeralah berwudhu karena marah itu ibarat api." (HR Abu Daud). "Marah itu karena setan, sedangkan setan itu diciptakan dari api. Api hanya bisa dipadamkan dengan air. Karena itu, jika engkau marah, berwudhulah." (HR Abu Daud).

Ketiga, menurut riwayat Abu Hurairah, jika Nabi SAW marah dalam posisi berdiri, beliau lalu duduk. Ketika marah dalam posisi duduk, beliau kemudian berbaring, maka hilanglah marahnya." (HR. Ahmad dan at-Turmudzi).

Keempat, seperti dilakukan oleh Abu Dzarr, segerahlah beristighfar kepada Allah dan memohon maaf kepada yang dimarahi atau dihina, agar bara emosi itu padam, dan pengendalian diri menjadi lebih stabil, tenang, dan menjadi pribadi yang menyenangkan.

Kelima, pembiasaan puasa sunnah untuk lebih dapat mengendalikan diri, menstabilkan emosi, dan meredam gejolak nafsu amarah yang berlebihan. Karena puasa merupakan salah satu solusi pengendalian diri yang paling efektif. Wallahu a’lam bish-shawab!

sumber : http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/13/12/11/mxnix4-manajemen-pengendalian-diri

PEMBELAJARAN X MIPA 3 & X IPS 2

BERLOMBA DALAM KEBAIKAN Untuk Kamis, 26 Maret 2020 & Jum'at, 27 Maret 2020 Belajar dari rumah, minggu kedua efek "Epidemi ...